KOMITE PENGUSAHA MIKRO KECIL MENENGAH INDONESIA BERSATU (KOPITU) MENGINISIASI PERTEMUAN PARA PELAKU PORANG DAN PEMERINTAH SERTA PENELITI PERTANIAN DALAM WEBINAR HALAL BIHALAL KOPITU 2021. 

781 Views

Jakarta, 17 MEI 2021 – Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu atau yang lebih dikenal dengan KOPITU menginisiasi pertemuan yang membahas mengenai isu tanaman PORANG, yang saat ini merupakan agenda SUPER PRIORITAS Pemerintah di Kementrian Pertanian. Webinar Halal Bihalal KOPITU 2021 kali ini mengangkat  topik yang berjudul “Strategi Penyusunan Regulasi Pengamanan Market Chip Porang ke China dan Kapitalisasi Koperasi Menuju Rumah Produksi Porang Terpadu” yang akan dilaksanakan pada 19 Mei 2021 pukul 13,00 mendatang.

Turut hadir dalam acara ini Presiden RI Ir. Joko Widodo (tentatif), Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Menteri Perindustrian Dr. Agus Gumiwang Kartasasmita M.Si, Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo SH, Msi, MH., Menteri Koperasi dan UKM Drs. Teten Masduki  hingga Duta Besar RI untuk RRT dan Mongolia  Drs. Djauhari Oratmangun, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru S.H, MM  dan beberapa tokoh penting lainnya.

Menurut Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo, Porang bisa menjadi Booster Sektor Pertanian dan saat ini menjadi agenda Super Pioritas di Kementrian Pertanian, hal itu diungkapkan pada pertemuan para pemimpin daerah dalam Rapat Pengembangan Porang Menuju Ekspor pada 11 Mei 2021 yang lalu. Dalam rapat pembahasan tersebut, pemerintah menargetkan pembukaan 100.000 Ha lahan porang untuk tahun ini.

Namun dilain pihak industri ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh indutsri di dalam negeri, dari data yang di dapat 90% hasil porang adalah untuk pasar ekspor. Sebagian besar produk porang yang diekspor adalah berupa chips porang dan tepung.

Harga jual yang cukup tinggi menjadikan porang komoditi yang menarik untuk para petani. Harga umbi saat ini Rp.8000,- per kilo yang dapat meningkat hingga Rp. 14,000,- saat harga sedang naik. Dalam 1 ha penanaman dapat ditanam 40.000-80.000 biji katak yang dapat menghasilkan rata–rata 400gram – 700 gram  jika panen ditahun pertama hingga 2 kg – 6 kg jika panen ditahun kedua. Dari data ini rata-rata keuntungan petani bisa mencapai 400 juta per ha per tahun, jelas Pak Abimanyu pelaku pertanian porang dalam wawancara.

Oleh karenanya banyak petani yang berlomba-lomba menanam porang dilihat dari bermunculannya berbagai komunitas, koperasi, bumdes hingga asosiasi porang diberbagai wilayah. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi hilirisari produk jadi disektor industri yang dapat mengekstrak kadar Glukomanan pada porang.

Glukomanan merupakan 75% bahan yang terkandung dalam umbi porang kuning Indonesia.  yang menjadi bahan baku penstabil berbagai industri seperti industri makanan dan minuman,  industri bahan baku kedokteran, industri tekstil dan kertas serta kosmetik dan produk harian seperti shampoo dan pasta gigi. Glukomanan merupakan polisakarida yang diekstrak dari porang. Saat bersentuhan dengan air, glukomanan dapat membesar hingga 60 kali dari bentuk aslinya. Disebut sebagai Miracle Noodle di Jepang disebabkan karna kompulsif, disebabkan kandungan mie porang adalah  97% air dan 3% fiber. Yang membuat perasaan kenyang dengan kalori yang masuk mendekati nol.

Semangat dari para petani Indonesia untuk menanam porang harus diimbangi dengan kepastian penyerapan hasil panen. Menurut Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo, diperlukan dukungan keterlibatan koperasi sektor riil pada industri pabrikan dan powder porang.sehingga dapat turut serta mendorong sektor hilir untuk dapat meningkatkan nilai tambah yang berdampak pada peningkatan devisa negara dan juga penyerapan tenaga kerja.

No comments

Open chat
butuh bantuan?
Ada yang bisa KOPITU Bantu?
tanyakan keluhan anda